Seminggu
8:24 PM“kau membicarakan soal apa?” tiba tiba tawanya berhenti dan suaranya berubah lebih serius. Aku mengulang perkataanku lagi “Aku merindukannya… dia yang tertawanya lepas, berbagi cerita soal gossip terhangat di kantornya, tentang bosnya yang kadaluarsa, tentang si gendut yang doyan dikte orang, tentang pembicaraan kita yang terlampau liar, tentang masa depan kita.” Aku menghela napas kemudian melanjutkan “aku merindukannya dari fajar menjelang sampai ia larut di ufuk barat dan bumi telah berotasi selama 18 jam hingga akhirnya aku tertidur. Ia yang selalu menyediakan waktunya hanya untuk mengatakan ia merindukanku. Dan sekarang aku kehilangannya.”
Lama aku dan dia diam. Tik….tok….tik….tok….
“Hei, aku tetap orang yang sama!” katanya sendu. Demi bumi yang tetap berputar pada porosnya aku tau ia hampir menangis. Untunglah kita terpisah 2 jam perjalanan udara dan 3 jam perjalanan darat.
Aku tersenyum simpul, mengejek lebih tepatnya, “tapi kau bukan yang ku rindukan. Kau bukan orang yang selalu mengucapkan selamat pagi, kau bukan orang yang tak henti mengingatkan aku yang susah makan…. Dan oh ya ampun bahkan aku lupa namamu bung! Haruskah kita berkenalan? Aku tak keberatan jika………”
“Hei sayang it’s me aku yang kau rindukan” tukasnya memotong racauanku.
Kali ini aku tertawa terbahak bahak, “Bung! Siapa yang kau panggil sayang itu? Akan ku adukan kau kepada kekasihku!” ancamku. Ia bergeming
“kekasihku orang yang seminggu lalu masih bersamaku, membicarakan kita, membicarakan kebodohan kita di masa lalu, menertawakan kecemburuannya. Dan kau… bukan orang yang sama seminggu yang lalu” racauku lagi.
Dan ia tetap bergeming. 5 detik kemudian ia mengucap maaf dan obrolan malam itu terhenti. Aku kembali tertawa apakah suara itu yang aku rindukan? Apakah pesan singkat itu yang selalu kunanti?
Aku meyakinkan diri. Bukan.. bukan dia orang yang sama seminggu yang lalu.
Untukmu pesonaku yang entah detik ini tetap orang yang kunanti





0 comments